labelku

Memimpin Pujian dan Penyembahan dengan Kreatif




Memimpin pujian dan penyembahan adalah sebuah seni, sesuatu yang bisa dipelajari. Memimpin pujian bukanlah sebuah talenta atau karunia, karena setiap kita dipanggil menjadi seorang penyembah.


Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu tahu dulu apakah pujian dan penyembahan itu sendiri bagi kita. Teknik memimpin pujian sebenarnya mudah, tetapi prinsip dan konsepnya itu yang jauh lebih berharga untuk bisa dipahami. Namun, sayangnya banyak pemimpin pujian saat ini hanya mementingkan teknik (misalnya, kode tangan untuk ke versechorusending, dan sebagainya). Jika hanya itu yang kita lakukan, pemusik dunia pun melakukan hal yang sama. Yang membuat kita berbeda adalah kita memuji dan menyembah Tuhan.


Jika boleh jujur dengan diri sendiri, dalam pikiran kita, pujian kita konotasikan sebagai lagu cepat, dan penyembahan sebagai lagu pelan. Namun, tanpa kita sadari juga, kita bisa menyembah Tuhan dengan lagu yang cepat dan memuji Tuhan dengan lagu pelan, atau bahkan tanpa lagu dan musik sekalipun. Seringkali kita terjebak dengan pikiran bahwa memuji dan menyembah Tuhan berhubungan dengan lagu cepat dan lagu pelan. Kita harus bisa mengubah pola pikir kita terhadap konsep pujian dan penyembahan yang sesungguhnya. Sebab jika kita berpikir pujian dan penyembahan hanyalah perkara lagu cepat dan lagu pelan, maka jemaat pun akan memikirkan hal yang sama.



Seorang pemimpin tidak akan bisa pergi memimpin/membawa orang lain ke tempat yang dia sendiri belum pernah pergi. ~ Sidney Mohede


Banyak pemimpin pujian berkata bahwa dia akan membawa masuk jemaat masuk ke hadirat Tuhan. Ironisnya dia tidak tahu atau belum pernah merasakan pribadi hadirat Tuhan itu seperti apa, sebab yang dia tahu hanya soal lagu dan teknik. Semakin kita sering memimpin pujian, kita akan sadar bahwa memimpin pujian adalah sebuah seni mengikuti Roh Kudus, seni mengikuti tuntunan Roh Kudus, dan ini tidak akan pernah bisa diajarkan. Hubungan dengan Roh Kudus tidak akan pernah terjadi dalam waktu instan, semuanya perlu waktu dan proses. Saat kita sedang menyembah, memimpin pujian, kita harus membangun komunikasi dengan Roh Kudus dan bertanya apa yang Roh Kudus ingin kita lakukan dalam pujian dan penyembahan ini.


Apa yang kita lakukan di depan banyak orang saat memimpin pujian dan penyembahan adalah cerminan dari apa yang kita lakukan saat memuji dan menyembah Tuhan sendirian, tanpa ada yang melihat. Banyak di antara pemimpin pujian dan penyembahan yang tergila-gila dengan banyaknya orang yang melihat, sehingga memimpin pujian dan penyembahan di atas mimbar hanya menjadi kedok atau topeng. Banyak dari mereka yang ketika memimpin pujian dan penyembahan hanya memikirkan tentang diri sendiri, berapa banyak persembahan kasih yang bisa didapatkan, dan sebagainya.


PENYEMBAHAN adalah semua yang kita miliki, kita memberikannya untuk Tuhan.

Ingat bahwa kekristenan bukan sebuah pelayanan, kekristenan adalah sebuah kehidupan. Yesus sendiri berkata bahwa Dia datang untuk memberi kita hidup dan hidup yang berkelimpahan. Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia datang untuk memberi kita pelayanan dan pelayanan.

Kekristenan tidak berbicara tentang apa yang kita lakukan sepanjang pelayanan di hari Minggu, tetapi apa yang kita lakukan setiap hari, apakah kita sudah menjadi teladan, apakah kita menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab di mana pun kita ditempatkan. Percuma jika pelayanan kita maksimal dan baik, tetapi kita justru menjadi batu sandungan bagi teman-teman kita, jarang berada di rumah, tidak menjadi berkat di tempat kerja, dan sebagainya.


Teknik memimpin pujian dan penyembahan sangatlah bisa dipelajari, namun konsep dasar pujian dan penyembahan—yaitu mengenai hubungan kita pribadi dengan Tuhan, dengan Roh Kudus—tidak bisa dipelajari. Inti dari pujian dan penyembahan bukanlah tentang kita. Banyak dari kita yang mengukur keberhasilan memimpin pujian-penyembahan dengan seberapa hadirat Tuhan bisa dirasakan jemaat. Dan, saat kita merasa bahwa pujian-penyembahan dalam suatu ibadah itu biasa-biasa, kita menjadi waspada sebab pusat dari ibadah itu bukan lagi Tuhan, tetapi kepada pemimpin pujian penyembahan sendiri. Ada tidaknya hadirat Tuhan akhirnya ditentukan dari kekuatan dan kemampuan tim pujian-penyembahan yang melayani, bukan karena Tuhan. Tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa hadirat Tuhan di hidup kita. Apapun teknik yang kita lakukan, tanpa kita mengerti prinsip dasar ini, tidak akan ada gunanya.


Dalam mengerti sebuah teknik memimpin pujian dan penyembahan, kita harus memahami pentingnya keseimbangan antara kemampuan dan urapan Tuhan. Sekedar pandai bernyanyi atau pandai bermusik tidak cukup untuk menjadi pemimpin pujian dan penyembahan. Banyak dari kita yang tidak mau mengejar urapan dari Tuhan, sebab diperlukan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan urapan. Untuk mendapatkan urapan diperlukan sebuah hubungan yang harus terus-menerus dibangun bersama Tuhan. Apakah kita sudah cukup berani membayar harga untuk mendapatkan urapan tersebut?





Sumber: 
Rangkuman Workshop “Worship Leading” Unlimited Worship Conference 2009 (www.penyembah.com)

HATI YANG MELAYANI



Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”



1. Melayani itu adalah Privilege.

Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.



Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.



Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.



2. Melayani itu Anugerah.

Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.



Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"



Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.



Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?



Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.



Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  
  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.

Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.



3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!

Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”



To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.



Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.

Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”



Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.



Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.



4. Melayani itu jangan pernah melihat ke belakang.

Kitab Filipi 3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu  sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.



5. Melayani itu harus dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalamnya.


Kisah Para Rasul 20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.”



2 Korintus 8:1-15, Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.



Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita.

Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya.

Pelayanan itu ditopang dengan hati yang generous.


6. Melayani dengan Murah Hati.

Lukas 6:36
“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”



Memberikan hospitality. Konsep ini penting sekali karena ini salah satu yang Tuhan mau ada di dalam hati kita,  sebab ada tertulis dalam



Ibrani 13:2
“Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”



Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri.



Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’



Sesama berarti kadang-kadang mungkin dituntut adanya "hukum timbal balik", tapi kalau others berarti kita memberi dan jangan berharap mendapat balasan karena mungkin dia hanya orang asing yang numpang lewat saja. Dalam hal inilah menurut saya, konsep hospitality ini muncul.



Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan.



Mulai jadikan hari-hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali.



Kalau kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa kita dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini.



Biar masing-masing dari kita semakin mempunyai "Hati yang Melayani."








Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.



Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” - See more at: http://www.penyembah.com/artikel/2013/11/hati-yang-melayani-1-steve-tabalujan/#sthash.t8oSurXf.dpuf
Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”
1. Melayani itu adalah Privilege.
Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.
Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.
Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.
2. Melayani itu Anugerah.
Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.
Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"
Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.
Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?
Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.
Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.
Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.
3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.
Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.
Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”
Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.
Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.
Artikel ini bersambung ke bagian 2. Klik ini untuk bagian selanjutnya.
Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.
- See more at: http://www.penyembah.com/artikel/2013/11/hati-yang-melayani-1-steve-tabalujan/#sthash.t8oSurXf.dpuf
Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”
1. Melayani itu adalah Privilege.
Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.
Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.
Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.
2. Melayani itu Anugerah.
Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.
Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"
Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.
Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?
Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.
Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.
Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.
3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.
Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.
Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”
Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.
Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.
Artikel ini bersambung ke bagian 2. Klik ini untuk bagian selanjutnya.
Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.
- See more at: http://www.penyembah.com/artikel/2013/11/hati-yang-melayani-1-steve-tabalujan/#sthash.t8oSurXf.dpuf
Matius 20:26-28
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”
1. Melayani itu adalah Privilege.
Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang "besar" di dalam pelayanan Tuhan. But if you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.
Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayan, murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh.
Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan semua keagungan, kebesaran, dan kemulianNya buat kita.Tidak ada orang yang menjadi besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itulah sebabnya ‘to serve is a privilege.
2. Melayani itu Anugerah.
Dalam kitab 2 Korintus 4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…" Saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan hati bersyukur.
Dalam Bahasa Indonesia nya, "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati"
Bukan saja kita harus setia dalam melayani Tuhan, tetapi Tuhan juga mau kita untuk berani.
Dalam kitab Bilangan pasal 13, "Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya." Tanah perjanjian yang diberi Tuhan itu adalah anugerah. Kalau Tuhan tidak memberikannya, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah itu datang kepada kita seperti satu hadiah jatuh dari langit?
Kita tidak boleh abaikan prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan.
Setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons yang berani.

  • Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa.
  • Menerima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas.
  • Menerima pelayanan sebagai berkat  Tuhan yang datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang.
Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani.
3. Melayani itu harus tuntas, jangan setengah-setengah!!
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.”
To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan hal ini.
Tetapi setiap kita melayani Tuhan, tidak boleh tidak harus berani jalan terus & maju.
Mazmur 126:5-6,
“Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.”
Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju (menabur benih) dan dengan air mata.
Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus selalu ada goal.
Artikel ini bersambung ke bagian 2. Klik ini untuk bagian selanjutnya.
Steve Tabalujan lahir di Jakarta, 6 Agustus 1975. Dia telah mempelajari musik sejak usia empat tahun. Dia lulus dari International Yamaha Grade Examination, Japan, untuk Piano, Electone dan Fundamental grd. 5 & 4. Grade 8 untuk Piano dari Royal School of Music, London. Dia bergabung sebagai anggota JOC (Junior Original Concert) in 1985-1991. Dia mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival band baik lokal maupun nasional. Steve Tabalujan lulus sebagai Bachelor of Music in Piano Perfomance dari Sweelinck Conservatorium Amsterdam, Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Steve adalah seorang musisi, penulis lagu, arranger, pengajar piano dan salah seorang pemimpin kelompok sel di gereja JPCC.
- See more at: http://www.penyembah.com/artikel/2013/11/hati-yang-melayani-1-steve-tabalujan/#sthash.t8oSurXf.dpuf