labelku

Tampilkan postingan dengan label PELAYAN MUSIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELAYAN MUSIK. Tampilkan semua postingan

Pelayan Musik Gereja Yang Ideal

Gereja yang tidak bernyanyi bukanlah gereja.- Karl Barth


Judul pokok bahasan ini memiliki pengharapan yang tidak muluk-muluk. Pelayan musik yang diperlukan adalah yang "ideal" bukan yang sempurna. Yang ideal memang bukanlah yang sempurna. Kata "ideal" berarti sesuai dengan apa yang dikehendaki atau yang dicita-citakan.[1] Namun pertanyaannya sekarang adalah berdasarkan "keinginan" dan "kehendak" siapa? Berdasarkan sudut pandang dan patokan siapa? Berdasarkan patokan diri sendiri, jemaat, atau Allah?

HAKIKAT PELAYAN MUSIK GEREJA
Menjadi pelayan musik gereja berarti menjadi orang yang melayani Allah pada seksi musik di dalam gereja (ekklesia - persekutuan orang percaya). Orang yang melayani musik gereja adalah pelayan Allah karena Kepala Gereja adalah Kristus. Jadi siapa pun ia dalam jajaran pelayanan di dalam gereja (termasuk Pendeta dan Presbiter lainnya) ditilik, dinilai, dan diamati pertama-tama berdasarkan sudut pandang Allah. Dan sudut pandang Allah diuraikan dengan jelas dalam Alkitab. Pada prinsipnya baik pelayan Kategorial, pelayan Sakramen, pelayan Musik memiliki kesamaan lebih banyak daripada perbedaannya. Alasannya adalah mereka semua adalah pelayan Allah, dan yang membedakannya hanyalah uraian tugasnya saja. Sehingga secara khusus pelayan musik gereja tidak dinilai dari kecanggihannya memainkan musik dan keindahannya menyanyikan lagu dengan tepat sesuai partitur dan terdengar harmonis, tetapi pada pribadinya sebagai seorang pelayan. Akibatnya nas yang diperlukan seorang pelayan musik gereja sama dengan nas yang dibutuhkan oleh seorang pendeta, seorang penatua dan diaken, seorang pelayan komisi lainnya.

Dalam Kol 3:16 tertulis:
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

Pakar PAK Indonesia, Andar Ismail, menguraikan bahwa teks serta terjemahan "dan sambil" di ayat itu sebenarnya bisa diartikan sebagai "dengan", sehingga ayat ini berbunyi: "ajarlah dan tegurlah ... dengan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani". Ayat ini memang mau memperlihatkan bahwa nyanyian mempunyai fungsi didaktis dalam menanamkan Firman Kristus. Bahkan dalam Efesus 5:18-19 di situ tertulis, "...berkata-katalah seseorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani". Perhatikanlah bahwa pengarang Efesus mengganti kata ajar dan tegur menjadi "berkata-katalah". Kedua ayat dari abad pertama ini menunjukkan bahwa awalnya gereja memandang nyanyian sebagai sarana belajar dan mengajar tentang Kristus.[2]

Andar Ismail melanjutkan tulisannya:
Dengan prinsip itu kita melihat bahwa segala sesuatu yang bersangkutan dengan musik gereja mempunyai fungksi hakiki sebagai pemampu yang memampukan umat bernyanyi. Jadi, jika seorang solois atau koor bernyanyi maka fungsi hakikinya sebenarnya adalah memampukan umat bernyanyi. Ini sama sekali bukan berarti bahwa setelah solo atau koor itu umat harus menyanyikan lagu yang sama. Yang dimaksud adalah bahwa tugas solois atau koor bukanlah sekedar menghibur umat, melainkan memberi contoh, topangan, dan dorongan kepada umat untuk bernyanyi dengan benar. Hal ini berlaku juga untuk pemain musik.[3]

Sekarang bila kita sepakat bila hakikat pelayan musik gereja adalah pelayan itu sendiri, maka marilah bersama-sama kita memperhatikan hal-hal apa saja yang diperlukan oleh seorang yang disebut pelayan itu:

a. Pengertian yang mendalam terhadap firman AllahPaulus dalam membentuk Timotius selaku pelayan muda di Efesus memesankan:

Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.[4]

Bagaimana mungkin kita menjadi pelayan Allah bila kita tidak mengerti apa kehendak-Nya?

b. Memiliki relasi yang karib dengan AllahSelanjutnya Paulus berujar kepada Timotius:

7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
[5]

Melatih diri beribadah sama artinya membiasakan diri secara kontinu membentuk hubungan dengan Allah yang menimbulkan kekariban. Berdasarkan nas di atas maka pelayan yang memiliki relasi karib dalam peribadahannya dengan Allah memiliki dua keuntungan:

1. mengenal dan mengalami janji Allah untuk hidup ini;
2. mengenal dan mengalami janji Allah untuk hidup yang akan datang;

Orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah adalah orang yang akan belajar memandang segala sesuatu berdasarkan sudut pandang Allah. Kedekatannya dengan Allah membuat pelayan tersebut makin mengenal Allah (knowing Jesus).

c. Karakter Yang Terpuji
Karakter Pemuji Allah pada prinsipnya adalah karakter seorang pelayan Allah. Dan Paulus menasihatkan khususnya pelayan muda:

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.[6]

Penuturan Paulus ini disatu sisi ingin meneguhkan bahwa kemudaan bukan halangan bagi pelayanan tetapi tetap harus ada yang dapat dipakai untuk memukau orang (secara positif) yakni dengan menjadi teladan yang terkandung dalam karakter sekaligus mencerminkan karakter. Teladan yang diharapkan hadir dalam diri Timotius bukan karena kemudaannya tetapi karena ia adalah seorang pelayan Allah. Teladan tersebut mencakup: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian.

PerkataanMilikilah perkataan yang menjadi perkataan. Perkataan yang tajam tetapi tidak melukai. Perkataan yang tepat pada sasarannya tanpa melukai orang lain.

Tingkah Laku
Memang Allah tidak memandang rupa tetapi melihat hati. Namun hal itu bukan berarti tidak ada kesejajaran antara hati dan tingkah laku. Akan terlihat begitu membingungkan bila hati seseorang yang katanya baik dalam penjabaran dalam tingkah laku justru sangat memuakkan.

KesetiaanKesetiaan adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Bahkan kelompok kejahatan sekalipun menuntut kesetiaan di antara pengikutnya. Kesetiaan pelayan Tuhan tidak hanya dibuktikan pada keteguhan memegang komitmen pelayanan tetapi juga pada keteguhan berpihak pada kebenaran. Kata lain dari kesetiaan adalah integritas yang menunjukkan nilai kita yang tetap sekalipun berpindah-pindah konteks hidup.

Kasih
Tanda dari pelayanan yang sejati adalah kasih, bukan kekuasaan, keberhasilan atau kebesaran pelayanan. Keberhasilan dan kekuasaan tanpa kasih sama artinya dengan sebuah pelayanan yang telah meninggalkan hukum Kristus yang terutama dan pertama.

Kesucian
Sulit melihat kesucian dalam dunia yang serba relatif dan memudar. Kesucian hanya dianggap mimpi utopis. Namun kesulitan yang ada bukan alasan atau halangan seseorang membuktikan apa yang dituntut Tuhan: "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Pet 1:16).

d. Profesional Dalam Karya dan Pelayanan
Kata ini sudah dipahami dengan keliru oleh kebanyakan orang. Profesional sering dianggap lawannya amatir dan terkesan bayaran. Padahal yang dimaksud dengan kata tersebut di sini adalah: cakap di bidangnya. Pelayan musik gereja bukanlah orang yang sekedar memiliki minat dan bakat musik tetapi mereka yang benar-benar mengembangkan talenta dan minatnya itu dalam bentuk pelatihan yang menimbulkan kecakapan. Paulus memerintahkan Timotius untuk tidak lalai mempergunakan karunia yang ada padanya dalam pelayanan:

Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.[7]

Perintah Paulus ini mengandung makna tersirat agar Timotius terus melakukan pelatihan yang kelak akan menghasilkan kecakapan atau profesionalitas. Hasil dari pelatihan itu tentunya tidak menjadi sesuatu yang tidak dapat dinilai atau diukur malah sebaliknya hal itu justru menjadi satu bentuk kemajuan yang memajukan pelayanan jemaat itu sendiri:

Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.[8]

Dalam upaya meningkatkan profesionalitas pelayaan dibutuhkan ruang dan waktu belajar yang memadai, kerja keras, ketekunan, dan menghancurkan rasa puas diri. Pelayanan menghabiskan waktu untuk terus-menerus mengobarkan api bukan untuk memadamkannya.(II Tim 1:6).

e. Siap Sedia Melakukan Evaluasi Diri dan Antisipasi


Paulus dalam pesannya kepada Timotius tidak melupakan unsur pengawasan dan evaluasi terhadap diri sendiri. Paulus menulis:

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.[9]

Disamping melakukan evaluasi yang mengantar pada perbaikan, ada yang perlu dibuat pula sehubungan dengan hal ini yakni melakukan antisipasi. Dengan senantiasa memperbaiki kekurangan-kekurangan maka dampak yang negatif ke pelayanan-pelayanan di masa depan dapat diminimalkan.

Dalam upaya melakukan pemeriksaan diri atau otokritik di situ dijumpai kebesaran jiwa dan kerendahan hati. Ingatlah kesombongan adalah penyebab utama kehancuran dalam pelayanan dalam segi apa pun.

Pelayan Musik Gereja Sebagai Penyembah Allah
Saat seorang pelayan sedang menjalankan tugasnya maka ia sedang mengerjakan dua dimensi pelayanan baik yang bersifat vertikal maupun horisontal. Namun yang senantiasa menjadi kelemahan di banyak gereja adalah penekanan yang terlalu berat pada dimensi horisontal. Bagaimana pelayanan itu menyenangkan mereka yang duduk di bangku gereja. Padahal dimensi vertikal adalah pelayanan terhadap sang Kepala Gereja sendiri sering kurang mendapat perhatian.

Pelayan Musik Gereja adalah penyembah Allah. Dan saat pelayan musik gereja sedang menjalankan tugasnya maka ia tidak hanya memandu atau mengiringi lagu bagi jemaat tetapi ia juga sedang menyembah Allah bersama jemaat. Tommy Tenney menyatakan bahwa: "Penyembahan adalah suatu proses saat anda mengulurkan lengan-lengan anda ke langit sebagai tanda penyerahan."[10] Selanjutnya bahkan ia menulis bahwa: "peyembahan mempunyai kesanggupan adikodrati untuk memperbaiki masalah-masalah penglihatan rohani kita dan mengarahkan semuanya pada pusat perhatian surgawi.[11] Penyembahan tidak saja menghadirkan kuasa Allah dalam ibadah tetapi juga membuat ibadah tidak terpusat pada manusia dan penampilan manusia tetapi kepada Allah. Jadi pelayan musik gereja tidak dapat dikategorikan pelayan yang melayani asal jadi karena ia sedang melayani dua dimensi yang sama-sama meminta pertanggungjawaban.

Pelayan Musik Sebagai Tim Pelayanan
Tim Pelayanan mensyaratkan adanya beberapa orang yang diajak dan ditetapkan sebagai pelayan-pelayan. Pelayanan musik gereja tidak memungkinkan pelayanan dikerjakan oleh satu orang saja. Bila tim tidak bekerja sebagai tim tetapi bekerja secara individual maka sekalipun ada yang bekerja dalam kelompok pelayan musik gereja tetap saja disebut dengan pelayanan individual.

Kita sadar bersama bahwa kurangnya kesatuan dalam gereja telah menjadi salah satu penyebab mengapa gereja tersebut tidak mengalami kebangunan dan pertumbuhan. Hal itu pun berlaku bagi komisi musik gereja. Bila kita merindukan adanya pelayanan-pelayanan yang semakin maju dan semakin besar maka ada harga yang harus dibayar pula yakni: dituntut adanya sebuah kesatuan yang besar pula. Ketidaksatuan menjual kredibilitas kita. Sehingga tidak beralasan bagi dunia untuk percaya bahwa kita berasal dari Allah jika kita bertindak seperti Iblis.[12]

Kesatuan diperlukan dalam kesatuan tim sehingga saling melengkapi dan saling menopang. Tidak ada yang memegahkan diri. Bila satu sakit semua sakit, dan bila satu dihormati semua turut dihormati (I Kor 12).

Pelayan Musik Berorientasi Pada Jiwa Bukan Program
Orientasi pelayanan kita adalah jiwa bukan program. Program adalah alat bantu mencapai orientasi tersebut. Dalam setiap kesempatan pelayanan hendaknya seluruh pelayan berpikir bahwa pelayanannya menjadi satu kesatuan dengan pemberita Firman Allah untuk menyelamatkan jiwa dan bukan sekedar pemenuhan jadwal yang telah ditetapkan. Bila para pelayan musik gereja berorientasi pada jiwa, maka semua yang terlibat di dalamnya tidak akan pernah merasa bila mereka hanyalah pelayan pelengkap dalam sebuah ibadah.

Pada prinsipnya pertemuan ini dimaksudkan agar semua yang menyebut dirinya pelayan terus dibangun dan meraih kemajuan dan bukan berkanjang kepada kemunduran dan kegagalan. Kita semua tentu teringat akan kata-kata Larry Keefauver yang menyatakan bahwa: "Pelayanan menghabiskan waktu untuk membangun berdasarkan kekuatan yang ada dan bukan menutupi kelemahan".

[1] Tim Redaksi KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 3 (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).[2] Andar Ismail, Selamat Melayani Tuhan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 16-17.[3] Ibid.[4] I Tim 4:6 (bagian yang ditebalkan adalah tambahan)[5] I Tim 4:7-8[6] I Tim 4:12[7] I Tim 4:14[8] I Tim 4:15[9] I Tim 4:16[10] Tommy Tenney, God's Eyeview (Jakarta: Immanuel, 2003), 2.[11] Ibid., 8.[12] Tommy Tenney, Tim Impian Tuhan (Jakarta: Immanuel, 2000), 30.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

PELAYANAN MUSIK & WORSHIP LEADER

By. Enos Ipunk

Worship Leader (WL) merupakan salah satu figur penting dalam  kehidupan ibadah jemaat seperti halnya pengkhotbah, musician, singer, dan pelayan lainnya. Kehadiran seorang WL yang benar-benar memahami akan tugas dan tanggungjawabnya merupakan  berkat yang harus senantiasa disyukuri karena harus diakui bahwa ada cukup banyak WL yang kurang memahami akan peran yang diembannya,  yaitu memimpin jemaat dalam memuji Tuhan.

Sebagai musisi yang  terlibat dalam pelayanan musik gereja, kita bukan hanya dituntut memiliki pengetahuan teknis semata namun juga pemahaman teologis yang benar tentang hakekat pelayanan pujian. 

Pelayanan musik gereja  bertujuan untuk membantu jemaat dalam menghayati iman kepercayaan mereka melalui nyanyian dan juga membantu jemaat untuk dapat bernyanyi  dengan baik dan benar.

 Saya berharap bahwa melalui tulisan ini dapat membantu semangat dan motivasi kita dalam melayani Tuhan sebagai pelayan Pujian dan Penyembahan.

Profil Pelayan Musik Gereja
Aspek Spiritual
Pelayanan musik gereja tak berbeda dengan bentuk-bentuk pelayanan lainnya di gereja, dapat dipandang sebagai:
  1. Ibadah  yang sejati
  2. Kewajiban yang patut dijalankan oleh setiap orang Kristen sebagai wujud baktinya kepada Tuhan
  3. Panggilan mulia
  4. Cara menyenangkan Tuhan

ASPEK MUSIKAL

Banyak orang menghubungkan antara pelayanan di gereja dan sikap amatiran. Artinya bahwa kompetensi kalah penting bila dibandingkan keterpanggilan seseorang untuk terlibat dalam pelayanan. 

Banyak orang yang sebenarnya mampu dan tepat untuk melayani di gereja sesuai dengan talentanya, namun justru sama sekali tidak tergerak untuk memberikan waktu dan tenaganya dengan dalih tuntutan pekerjaan dan kesibukan. Sebaliknya ada  segelintir orang yang tidak memiliki kompetensi yanng sesuai untuk melayani pada suatu bidang, namun memiliki keterpanggilan dan jiwa melayani.

Berkaitan dengan aspek musikal yang dituntut, maka seorang pelayan musik gereja seyogyanya:
  1. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang teori musik, sejarah musik dan harmoni.
  2. Memiliki  kemampuan mendengar dan membaca notasi musik dengan baik.
  3. Melaksanakan latihan secara disiplin dan teratur.
  4. Mengembangkan kemampuan musiknya secara terus menerus ( 1 Taw 9:33)

ASPEK KEPRIBADIAN

Berkaitan dengan aspek kepribadian yang harus dimiliki oleh WL, maka menurut Th. Mawene  dalam bukunya “Gereja yang Bernyanyi” mengatakan bahwa WL haruslah : Sehat jasmani, ramah, rendah hati, berwibawa, memiliki sifat kepemimpinan, memiliki kemampuan untuk memberi motivasi orang lain,  humoris, memiliki inisiatif, menjunjung profesionalisme, bertanggung jawab, memahami dan menyukai pekerjaannya, dan mampu  bekerjasama dengan orang lain.

Beberapa Catatan Penting Seputar Nyanyian Jemaat
Dalam pengamatan saya sebagai WL dan jemaat, ada beberapa catatan penting di seputar praktik nyanyian jemaat, yaitu:

  1. WL seringkali tidak menguasai melodi lagu yang sebenarnya. Kesalahan yang biasa terjadi dapat ditemukan pada lagu-lagu baru, yang belum ada panduan atau jiplakan berupa kaset, cd, dll.
  2. WL seringkali memilih nada dasar yang disesuaikan dengan jenis suaranya ketimbang memperhatikan keberagaman jemaatnya.
  3. Nyanyian jemaat seringkali dibawakan tidak sesuai dengan tempo yang seharusnya. Ini berhubungan dengan pengiring.
  4. Beberapa WL seringkali mengabaikan instruksi-instruksi musikal yang tertulis dalam lagu itu sendiri, misalnya: interlude, over tune, dll 
  5. Kecenderungan WL mengabaikan atau tidak mengetahui birama. Hal ini penting karena berimbas pada ketukan tepuk tangan yang dilakukan jemaat. 
  6. Kecenderungan yang sering terjadi belakangan ini bahwa kebanyakan nyanyian jemaat hanya dinyanyikan sebagian dan bukannya keseluruhan baitnya. Padahal sebagian besar nyanyian jemaat mengungkapkan pemahaman teologis yang bertahap melalui keseluruhan baitnya. 
  7.  Kurangnya pemahaman WL terhadap setiap lagu yang dibawakannya. Akan terasa sangat berbeda halnya jika mencoba melakukan sedikit survey terhadap lagu-lagu jemaat yang akan dipimpinnya. 
  8. Terakhir masih ada cukup banyak lagu-lagu jemaat yang jarang atau belum pernah dinyanyikan, karena terpaku dengan tren lagu yang sedang sering didengar.

SARAN...
Kenneth W. Osbeck dalam bukunya The Ministry of Music menuliskan beberapa saran khusus bagi pemandu nyanyian jemaat agar dapat melaksanakan perannya secara baik, yaitu:
  1. Mempersiapkan diri dengan baik
  2. Memimpin jemaat dengan antusias, sungguh-sungguh dan penuh keramahan
  3. Komunikatif dan jangan terpaku pada lagu
  4. Nyanyikan lagu sesuai dengan tempo dan ritme yang tertulis
  5. Dalam memulai frase baru, WL dituntut untuk bersikap tegas baik dalam memberikan gerakan mengabah maupun melagukan bagian tersebut.
  6. Lagu baru perlu diajarkan kepada jemaat
  7. Berikan instruksi dengan suara yang keras dan menarik
  8. Hindari gerakan maupun ekspresi yang berlebihan
  9. Kenali nyanyian jemaat yang akan dipandu dengan baik
  10. Jadilah diri sendiri dan percaya diri
  11. Perlu persiapan khusus dengan pengiring
  12. Perlunya latihan mandiri
  13. Usahakan agar ibadah dapat mengalir dengan baik dan jemaat menikmati nyanyian jemaat yang dibawakannya.

Penutup
            Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengatakan bahwa semua yang telah dibicarakann semata-mata bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kita khususnya melalui musik. Dengan mengevaluasi kembali motivasi kita sebagai pelayanNya. Sementara itu untuk meningkatkan aspek musikal yang kita miliki, sebaiknya kita mengikuti pelatihan dan pembinaan musik gereja agar pelayanan musik gereja dapat berkembang dengan baik dan semakin banyak jemaaat yang diberkati melalui pelayanan kita.

Selamat Melayani Tuhan Memberkati.
       










Pdt. I Nyoman Djepun, S.Th
Peggy A. Aipassa, S.Si

Teori Musik untuk Pelayanan Rohani

BAHAN TRAINING PEMUSIK


Tangga Nada Mayor :
C D E F G A B C
1 1 ½ 1 1 1 ½

Minor : A B C D E F G A
1½ 1 1 ½ 1 1

Kunci (Chord)
Chord adalah susunan nada yang terdiri dari tiga nada atau lebih yang dibunyikan secara bersama-sama sehingga menimbulkan suara yang selaras. Keselarasan tersebut dapat juga disebut harmoni. Harmoni yang paling sederhana terdiri dari tiga nada dan disebut triad. Persamaan kunci adalah bentuk kunci yang mengandung komposisi nada yang sama, tetapi pada umumnya urutan komposisinya diubah. Contoh : C-F-G. Jika susunan ini dinaikkan satu nada, maka susunannya menjadi D-G-A. Pasangan kunci dimaksudkan dengan kunci-kunci pelengkap dari nada dasar. Pasangan kunci ini merupakan susunan yang paling sering digunakan dalam memainkan sebuah lagu. Contoh : C-Dm-Em-F-G-Am-Bb. Sangat penting bagi seorang pemusik untuk memahami dan banyak berlatih agar kepekaan musiknya bertumbuh.
Tabel Progression Chords (Fill in The Blank)
Nada Dasar
Chords
C






D






E






F






G






A






B








Tempo
Istilah tempo seringkali dikacaukan dengan istilah dinamika. Keduanya berfungsi sangat vital dalam menuntun melodi sebuah lagu. Cobalah lantunkan sebuah nyanyian berirama cepat dan bersemangat, misalnya, “Maju Laskar Kristus” (Onward Christian Soldiers) layaknya melantunkan nyanyian “Sangat Besar Anugerah-Nya” (Amazing Grace). Atau sebaliknya, nyanyian dengan tempo lambat dinyanyikan dengan cepat. Kemudian rasakan perbedaannya, apakah nyanyian tersebut menjadi lebih enak didengar atau lebih buruk?
Secara garis besar terdapat tiga tempo utama yakni cepat, sedang, dan lambat. Ketiga jenis tempo ini, merupakan landasan perkembangan jenis-jenis tempo yang lain. Dalam kebanyakan nyanyian gerejawi setiap lagu biasanya sudah dibubuhi tanda tempo pada permulaan lagu, seperti: Largo (lambat), Andante (sedang), atau Allegro (cepat), dan sebagainya untuk menuntun pelantun nyanyian agar tidak salah melantunkan nyanyian tersebut. Demikian halnya, tempo akan menuntun para pemain musik untuk memainkan instrumennya dengan ukuran yang tepat sesuai dengan maksud nyanyian tersebut.
Penentuan tempo dapat juga dilakukan dengan menggunakan instrumen metronom (seperti di Buku Lagu Perkantas seperti yang kita pakai selama ini) yakni instrumen yang mengukur jumlah ketukan permenit. Meskipun menggunakan metronom dianggap lebih eksak, namun dalam praktik, penentuan tempo dengan cara eksak ini tak lebih dari hanya sekadar untuk mendapatkan orientasi. Penentu akhir tetaplah berada di tangan pelantun lagu atau pemain musik itu sendiri. Orang-orang yang berpengalaman luas, atau mempunyai perasaan musik yang kuat biasanya mampu menafsirkan sebuah karya musik dengan baik sehingga tidak akan jauh menyimpang dari tempo yang diukur melalui metronom.

Beberapa ragam tanda tempo:
★Tempo Lambat.
Grave, sangat lambat.
Adagia, lebih lambat dari Lento.
Lento, lambat.
★Tempo Sedang/Agak Lambat.
Maestoso, hikmat dan agung.
Andante, sedang.
Andantino, sedang tapi sedikit lebih cepat dari Andante.
★Tempo Agak Cepat.
Moderato, sedang.
Allegreto, agak cepat dan riang.
★Tempo Cepat.
Animato, riang gembira.
Allegro, cepat, hidup, dan gembira.
★Tempo Sangat Cepat.
Allegro Assai, sangat cepat (di bawah Presto).
Presto, sangat cepat (di bawah Vivace).
Vivace, sangat cepat, hidup, dan riang.


Dinamika 
Jikalau tempo berkaitan dengan cepat atau lambatnya sebuah nyanyian, maka dinamika adalah pernyataan yang berkaitan dengan keras atau lembutnya suara dalam suatu nyanyian vokal atau musik instrumental. Dinamika merupakan unsur yang sangat penting dalam ekspresi musik, oleh karena dinamika mencerminkan emosi yang menjiwai musik. Emosi yang lembut, terharu, damai, tenang akan terungkap di dalam alunan musik yang lembut atau emosi yang sedang membara, marah, gelisah, semangat, atau dinamis akan diungkapkan dengan alunan musik yang keras dan kuat. Dengan demikian, fungsi dinamika di dalam musik adalah untuk mengungkapkan ekspresi. Pengkhayatan dinamika yang baik hanya bisa dicapai dengan memahami secara mendalam sebuah karya musik. Selain pengkhayatan, unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan teknis untuk menafsirkan dan mengembangkan berbagai jenis dan tingkat dinamika.
Beberapa ragam tanda dinamik:
★p ( piano, lembut/pelan ).★pp ( pianissimo, sangat lembut ).★ppp ( pianossissimo, luar biasa lembut ).★mp ( mezzopiano, sangat lembut).★f ( forte, keras ).★ff ( fortissimo, sangat keras ).
★fff ( fortississimo, luar biasa keras ).
Tempo
1. Tempo memberi petunjuk tentang kecepatan nyanyian.
2. Istilah tempo biasanya ditulis pada awal nyanyian di sebelah kiri atas.
3. Menuntun pelantun atau pemain musik untuk menentukan kecepatan nyanyian.
4. Berlaku untuk keseluruhan nyanyian, kecuali ada ketentuan lain.
Dinamika
Memberi petunjuk tentang kuat atau lembutnya sebuah nyanyian.
Menuntun pelantun atau pemain musik ke dalam pengkhayatan jiwa dan semangat nyanyian.
Istilah dinamika bisa ditempatkan di mana saja dalam sebuah nyanyian.
Tanda dinamika hanya berlaku untuk bagian tertentu dari sebuah nyanyian.
So, jangan sampai dinamika mempengaruhi tempo dari sebuah lagu dan sebaliknya!!
FYI : secara teknis DINAMIKA dan TEMPO merupakan 2 unsur penting yang menentukan penjiwaan suatu lagu
Simbol
Decressendo, makin lama makin lembut (pelan).
Cressendo, makin lama makin keras.
Fermata, tanda istirahat yang nilainya dapat ditentukan oleh si pemain itu sendiri.
Accent, pemberian tekanan pada not-not tertentu.
^
Ulang Dari Tanda Sebelumnya
Lengkung Frase.


Birama
Birama 4/4 menunjukkan sebuah lagu termasuk dalam kelompok hitungan empat. Cara perhitungan dimulai dari satu, dua, tiga, empat, kemudian berulang kembali ke awal. Demikian seterusnya. Setiap ketukan bernilai 1/4 sehingga bila diakumulasikan 1/4+1/4+1/4+1/4 = 4/4
Birama ¾ menunjukkan sebuah lagu masuk dalam kelompok hitungan tiga. Cara perhitungan dimulai dari satu, dua, tiga, kemudian berulang kembali ke awal. Demikian seterusnya. Setiap ketukan bernilai ¼ sehingga bila digabung menjadi 1/4+1/4+1/4 = ¾
Hal ini berlaku juga untuk birama 2/4, 6/8, 6/4, 9/8, dll…
Pada akhirnya birama akan menentukan ketukan/iringan, seperti berikut :
2/4 bentuk x o I x o I x o
3/4 bentuk x o x II x o x x o x
4/4 bentuk x o x o I x o x o I x o x o
6/8 bentuk x o x o x o I x o x o x o I x o x o x o
Variasi
Yesus sayang Padaku
Ku Diberikan Kidung Baru
Ya Tuhan tiap jam
SetiaMu Tuhanku
Jiwaku Terbuka
Terpujilah Allah
Declare His Glory
Be Still for The Presence
Let Others see Jesus in You
In The Image of God (4 dan 6 ketuk)
God and God Alone (2 dan 4 ketuk)


Introduction, Interlude, Coda, Reffrein
Introduction
Dalam pembawaan lagu atau permainan musik, sebelum memasuki pokok lagu, umumnya diawali dengan permainan pendahuluan yang disebut introduction atau intro. Fungsinya untuk menangkap image musik dan mengantar pendengar masuk dalam nuansa musik yang diinginkan. Misalnya dalam nuansa country, tango, bossanova, dll. Dengan kata lain intro menjadi bagian terdepan dari corak lagu atau tampilan permainan secara keseluruhan yang memberikan kesan pertama bagi pendengarnya.

Interlude
Merupakan bagian lagu yang dimainkan sesudah bagian akhir menuju ke bagian berikutnya. Jadi semacam permainan selingan. Fungsinya sebagai peralihan, penghubung, atau senggaan antar bait dalam lagu. Pada praktek permainan, tidak semua lagu menggunakan interlude.

Reffrein
Merupakan bagian pokok tengah lagu yang umumnya berfungsi sebagai puncak lagu. Biasanya bagian ini memiliki corak melodi yang berbeda dari bagian awal.

Coda
Setelah sampai di bagian pokok akhir lagu, terkadang permainan musik menghendaki pengulangan main yang dimulai dari bagian awal lagu sampai selesai. Istilah pengulangannya disebut Da Capo atau disingkat DC. To Coda digunakan sebagai petunjuk bagian akhir lagu yang diulang sebelum melompat ke bagian penyelesaian atau perhentian lagu, disebut Coda.
Lagu Hymnal = Lagu yang menangkap doktrin dan memiliki ajaran yang kuat, sehingga baik bila dibawakan dengan bit yang semangat, dinamika yang tegas, tepat dan tempo yang jelas
Lagu Kesehatian = biasanya lagu-lagu yang bernuansa ceria dan semangat.
Lagu Praise and Worship = dimainkan dengan berbagai improvisasi seperti iringan yang berkombinasi yang akhirnya menciptakan musik yang sesuai dengan tujuan lagu, mis : penyembahan, saat teduh, pengakuan dosa, dll


Modulasi
Modulasi adalah peristiwa peralihan atau pergantian pertangganadaan dari yang lama ke pertangganadaan baru pada lagu. Dengan kata lain modulasi terjadi pada lagu yang menggunakan lebih dari satu pertangganadaan atau peralihan kunci. Fungsi modulasi adalah memberi kesan atau efek kejutan yang lebih kuat, luas dan berbeda dari lagu sebelumnya. Biasanya terdapat dalam lagu-lagu yang membutuhkan tekanan seperti lagu penyembahan, pengutusan. Misalnya nada dasar lagu adalah C maka bila kita ingin menaikkan 2 semitone yaitu D, agar berlangsung mulus digunakan akor jembatan yaitu A.


Konsep Pelayanan Musik
Apa sih bedanya antara main dalam ibadah dan sekuler? Hmm, letaknya ada pada TUHAN.. Iya sih kalo kita main musik buat ngeband atau tampil doank juga ga boleh sampe ga memuliakan TUHAN, coz itu emang tujuan hidup orang KRISTEN. But, kalo lo main dalam ibadah maka lo maen:
Motivasi lo benerin dulu!! Bukan bwt diliat ma orang2 (jelas aja lo ga tampil buat entertainment), tp buat TUHAN. Segala-galanya lo harus kasih total buat TUHAN, bahkan menyadari bahwa musik yang lo mainin juga buat bantu jemaat menikmati kehadiran ALLAH dalam ibadah.
Punya hati yang mengasihi TUHAN and jemaat!!
Kudu harus BERSERAH penuh ma TUHAN, caranya gampang kok. Hmm, yang paling penting lo harus punya HPDT (Hubungan Pribadi Dengan TUHAN) yang baik. HPDT itu dasar dari segala pelayanan yang lo kerjain bahkan hidoep lo. HPDT yang baik juga buah dari pelayanan lo.
Persiapan hati dah yang maksimal, jangan mikirin teknis doank! Kan diatas uda sepakat klo lo maen bukan bwt “unjuk gigi”. The most important adalah apakah TUHAN berkenan dengan pelayanan lo ato kagak.
Tetep harus mikirin teknis, cos persembahan yang terbaik adalah yang berasal dari kekurangan kita. Jadi, tetap dong kerahin segenap kemampuan dari talenta yang udah TUHAN kasi buat kita alias beri yang terbaik (tapi jangan maksa klo emang ga bisa)!! Inget juga point no. 3 di atas!Jgn sampe gara2 teknis, lo jadi pusing sendiri dah… : )
Playing with understanding means lo harus ngerti lagu yang lo mainin. Jangan asal maen dah pokoknya! Dalamin dulu lagunya, maknanya apa and kenapa milih lagu tersebut (buat yang satu ini koordinasi dengan MC)! Lo juga musti tau alurnya acara ibadah itu, biar lo terlebih dahulu nikmatin baru deh bisa bagiin ke jemaat (kebayang ga kalo lo ga nikmatin dan ga ngerti permainan lo? Gimana nasib jemaat?). Lagian nih ya, kalo lo uda dapet makna lagunya, ntar ngebantuuuu banget buat penghayatan dinamika dan tempo loh!!
Harus kerjasama yang bener kalo lo maen dalam tim. Jangan sibuk sendiri atopun dominan. Tetap jaga kesehatian antara tim baik sesama pemusik maupun pemusik dan MC. Saling ngedoain, saling menguatkan, saling ngebangun, saling ngingetin juga!! (yang kuat menanggung yang lemah)!! Bangun relasi yang baik lah, wong kita sama-sama anak TUHAN kan?
Pinter2 bagi waktu, jgn sampe keluarga ato orang2 terdekat lo marah krn waktu pelayanan lo menguras waktu belajar akhirnya nilai lo jelek ato lo jadi sakit deh! Pokoknya dalam proses latian dan pelayanan ini ALLAH pun dimuliakan (tetep berhikmat!!).
“Aduh, kok ribet amat??”..hehehe.. ga kok! Semua yang di atas emang “kewajaran orang Kristen”, apa yang seharusnya bukan apa yang harus. So, kalo lo ngaku anak TUHAN and punya talent bermain musik, hal yang logis dan wajar yang harus lo lakuin adalah melayani. Pertanyaannya bukan apakah gue harus melayani. Tapi Dimana gue dipake buat melayani?
Hahaha.. Met melayani dimana pun dikau ditempatkan olehNya..Semoga bahan ini bermanfaat..Gbu




DAFTAR PUSTAKA
http://www. kidung.com - Lirik Lagu Rohani & Chord Lagu Pujian & Penyembahan.htm
Pdt. Markus Agung. Belajar Akord Gitar dan Organ
R.E.Rangkuti. Teknis Praktis Mengiringi Lagu dan Melodi. Titik Terang Jakarta. 1980
Sudibyo, Priyatmo. Teknik Dasar Bermain Keyboard. Jakarta : PT. Niaga Swadaya
Buku Lagu Perkantas
 

MAZMUR
51:12 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
145:1. Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
145:2 Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
148:1. Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
148:2 Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!
148:3 Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!
148:4 Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!
148:5 Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
148:13 Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.
150:3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
150:4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
150:5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
150:6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
It’s good to praise You Lord and make music to Your name
I’ll proclaim Your love in the morning and Your faithfulness in night
Sings to the Lord and praise His name, tell of His salvation day after day
Make a joyful voice to the Lord of the earth
Then the heaven rejoice and earth be glad
Let everything that has breath praise the Lord
(taken from prologue of Let Everything That has breath Praise The Lord By: Shout to The Lord Kids)

sumber: basanovamarpaung.blogspot.com